Jumat, 06 Mei 2011

Pengertian Kasih

Pengertian Kasih

Pengertian Kasih

Kasih memiliki pengertian yang sangat luas, dan tidak mengenal batas dalam pengertiannya. Walau kasih tidak terdefinisikan, bukan artinya kasih itu tidak memiliki arti / meaningless tapi lebih tepatnya kasih itu dapat didefinisikan berbeda-beda oleh orang banyak sehingga sangat sulit sekali untuk merangkum pengertiannya. Tapi secara benang merahnya, kasih berlandaskan dengan kata sayang dan indah. Kasih identik dengan kata cinta, dan cinta identik dengan kata sayang, dan mungkin hal itulah yang menyebabkan tersusunnya kata "kasih sayang".

Kasih tdk memandang siapapun,kasih juga tidak bisa di bayar dengan apapun, kasih dapat di rasa dan kasih memberikan kedamaian, keindahan bagi setiap orang yang merasakan kasih sejati yang tulus dan kasih yang sempurna. Kasih itu bagaimana kita memberi yang terbaik buat orang lain, baik itu membahagiakan, tidak merebut kebahagiaan orang lain,membuka pintu hati.


Hukum Kasih

" Kasih itu hanya memberi dan tidak mengharap kembali, bagai Sang Surya menyinari dunia "

Kira-kira kalimat tersebut ingin mengungkapkan apa itu hukum kasih. Kasih itu tidak pamrih, ia berbuat tapi tidak mengharapkan orang lain untuk melakukan atau berbuat seperti yang telah ia lakukan. Kasih itu tulus, ketika ia berbuat baik kepada orang lain dan orang tersebut malah mengkhianati kasih, maka kasih tidak akan emosi atau bahkan marah malah sebaliknya kasih akan mau untuk memaafkan.

Kasih itu indah, keberadaannya membawa kedamaian sejati di dalam perasaan manusia yang memiliki kasih di hatinya.

Beragama itu sepertinya sederhana saja. Tak rumit. Manusia yang membuatnya rumit. Cukup dua hal saja untuk dipahami dan dilakukan (dengan sepenuh hati dan kerja keras tentunya, yaitu kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu dan segenap jiwamu, dan yang kedua yang sama dengan itu adalah kasihilah sesamamu manusia sama seperti dirimu sendiri.

Itu saja!

Saya memahami bahwa Allah akan memperhitungkannya ketika hukum kasih itu dilaksanakan.

Hukum kasih itu melebihi semua pengetahuan agama yang anda peroleh. Hukum kasih itu melebihi seluruh ritual-ritual lahiriah yang anda lakukan.

Saya kadang berpikir, apakah Tuhan berkenan kepada saya jika saya memiliki banyak pengetahuan agama, tapi kehidupan dan perilaku saya tidak memenuhi hukum kasih itu? saya pikir tak ada artinya semua pengetahuan itu, tak ada artinya semua ritual-ritual ibadah itu, tak ada artinya dogma-dogma itu, tak ada artinya jabatan-jabatan keagamaan yang melekat di diri saya-jika saya tidak hidup dalam hukum kasih itu.

Bukankah harusnya hidup manusia beragama itu merupakan “kitab terbuka” yang dibaca sesama sehingga setiap orang yang membacanya melihat Allah dalamnya? Kita berkata Allah maha pengasih, tapi perilaku kita bukan merupakan perilaku yang mengasihi. Kita berkata Allah maha pengampun, tapi perilaku kita bukan perilaku orang yang suka mengampuni. Kita berkata Allah mencintai perdamaian, tapi kita tak menghadirkan damai.

Kemudian, manusia beragama menjadi egois, sibuk mencari sorga yang dipoles dengan perbuatan-perbuatan amal meski tidak dari hati yang paling dalam.

Manusia beragama juga menjadi bodoh, tidak lagi berkarya dengan baik di dunia yang akan ditinggalkan ini, semua fokus dalam dogma-dogma, tapi tak bisa memberi hal-hal yang bermanfaat di dunia ini, bahkan dalam hal kecil di keluarga, masyarakat dan tempat kerja.

Manusia beragama berlomba-lomba dengan pengetahuan teologis supaya dianggap menjadi orang yang mengenal Allah dan taat beragama, padahal itu bukanlah sebuah nilai dihadapan Tuhan. Semua hanya sibuk membahas tokoh-tokoh agamanya pada masa lalu, tapi sedikitpun tak bisa menghidupi nilai-nilai hidup dari tokoh-tokoh tersebut.

Manusia beragama hanya sebagai pengagum tokoh-tokohnya, sama seperti seseorang mengagumi sosok Soekarno. Semua memuji tokoh-tokohnya. Dan hanya sebatas memuji. Seandainya Soekarno hidup dijaman dulu, dan membentuk sebuah agama, mungkinsaja banyak orang yang jadi pengikutnya.

Manusia beragama asik dengan dirinya dan agamanya sendiri.

Tapi coba kita perhatikan, justru orang-orang yang kita anggap memilki pengetahuan agama yang luas, lebih jago untuk berbuat dosa.

Biarkan saja Tuhan berbicara kepada kita. Biarkan saja Tuhan melawat kita. Biarkan saja Tuhan memimpin hidup kita. Itulah start yang baik. Setelah itu, kasih Tuhan yang diam di dalam hati kita akan juga kita tularkan dengan hidup mengasihi sesama tanpa pamrih, bahkan tanpa janji surga.

Kenapa tidak lakukan saja kedua hukum kasih itu? Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu dan segenap jiwamu, dan kasihilah sesamamu manusia sama seperti dirimu sendiri. Tak peduli latar belakangnya, tak peduli agamanya, tak peduli ras nya- karena Allah mengasihi semua umat manusia.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar